Selamat Datang
Berbagi ilmu dan pengalaman untuk menjadi lebih baik.
Apa itu Manuver
Mengapa web ini dinamakan ManuverZone?
Tentang Saya
Sekilas tentang kehidupan sederhana namun berkesan.

 

 

Kehidupan di Tiga Kota

kehidupan di tiga kota

Solo, Jogja, dan Bandung, tiga kota luar biasa yang ditakdirkan menjadi bagian dari jalan hidup saya. Tiada yang lebih berkesan mengenai tiga kota tersebut selain cerita indah tentang keluarga.

26 Desember 1985 kota Solo menjadi saksi kehadiran saya di dunia, tepatnya di Perumnas Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta. Terlahir sebagai anak kedua setelah kakak perempuan yang empat tahun lebih tua, saat itu tentunya rasa suka cita menyelimuti kedua orang tua. Namun tidak cukup lama saya berjodoh dengan kota ini karena tiga bulan setelahnya ayah mendapat tugas belajar ke Jerman sehingga setelah keberangkatannya saya dititipkan kepada kakek nenek di Jogja. Jadilah kota ini menjadi tempat persinggahan saya yang kedua, sementara ibu dan kakak memilih hijrah dan tinggal bersama mbah di Jakarta.

Singkat cerita, hampir tiga tahun berlalu dan ayah telah menyelesaikan kewajibannya. Beliau pulang ke tanah air dan bermaksud membawa saya untuk kembali bergabung dalam keluarga yang semestinya. Namun perasaan terlanjur sayang membuat kakek nenek merasa berat untuk melepas cucu tercintanya. Memang bukan hal yang mudah untuk diputuskan, seperti yang tertulis dalam artikel Kunci Mengambil Keputusan. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, saya dibiarkan untuk tetap menemani kakek nenek di Jogja sementara ayah memperoleh tempat dinas baru di Bandung dan tinggal bersama ibu serta kakak. Mulai dari sini kehidupan berjalan normal termasuk dengan kelahiran adik saya dua tahun setelahnya.

Sesuatu terjadi di awal saya masuk bangku SD, ketika ayah dan ibu memutuskan berpisah dengan alasan yang tentunya saat itu belum dapat saya pahami. Meskipun sebelumnya tidak tinggal bersama, sebagai seorang anak saya merasa ada yang hilang ketika tiba waktu berkumpul dan ibu tidak lagi turut serta. Terutama saat hari raya Idul Fitri ketika seluruh keluarga besar merayakannya bersama, namun ibu tak juga nampak sosoknya. Dan yang paling membuat sedih adalah ketika kawan-kawan sepermainan selalu membanggakan kedua orang tuanya, sementara saya bahkan tidak mampu menjawab ketika ada yang bertanya. Tapi kasih sayang kakek nenek sedikit demi sedikit mampu membuat saya bisa menerima keadaan tersebut, apalagi ketika usia semakin beranjak dewasa dan saya telah bisa memahami semua.

Di usia saya yang kesebelas ayah menikah lagi dan setahun berikutnya lahir adik laki-laki dari ibu yang baru. Meskipun belum dapat menerima sepenuhnya, saya berusaha menjalani hidup dengan normal dan tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Jadilah saya tetap tinggal di Jogja bersama kakek nenek, ibu tinggal bersama mbah di Jakarta, sementara ayah dan yang lainnya tinggal di Bandung.

Beberapa tahun berlalu sampai akhirnya tiba pada suatu masa dimana kakek nenek harus menghadapi takdirnya berpulang kepada Sang pencipta. Pada titik ini tiba-tiba saya merasa ingin lebih dekat dengan keluarga terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Akhirnya saya mulai membiasakan diri untuk mengunjungi ayah beserta keluarga di Bandung dan juga ibu yang sudah pindah ke Solo sepeninggal mbah di Jakarta. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan, dan juga tidak bisa seakrab seperti anak-anak lain kepada orang tuanya. Membawakan sesuatu seadanya, mendengarkan cerita-cerita mereka, atau sekedar menanyakan kabar apa yang tengah terjadi di sana, mungkin masih jauh untuk membalas apa yang telah mereka lakukan untuk saya selama ini.

Tapi satu hal yang perlu diketahui, bahwasanya saya tidak pernah membenci siapapun atas semua yang telah terjadi dalam hidup ini. Mereka tetap orang tua yang telah sangat berjasa terhadap hidup saya hingga sekarang. Semoga masih ada kesempatan dan banyak hal yang dapat saya lakukan untuk membahagiakan mereka di masa senjanya.