Selamat Datang
Berbagi ilmu dan pengalaman untuk menjadi lebih baik.
Apa itu Manuver
Mengapa web ini dinamakan ManuverZone?
Tentang Saya
Sekilas tentang kehidupan sederhana namun berkesan.

Petualangan

Mengenal orang-orang baru, memahami suasana & kebiasaan unik, menyelami setiap sudut tempat yang belum terjamah.

Meniti Kembali Setiap Jengkal Tanah Merapi

meniti kembali setiap jengkal tanah merapi

Salah satu gunung berapi teraktif di dunia, puncaknya memang tak terlalu tinggi tetapi dibutuhkan perjuangan ekstra untuk menggapainya.

"Ayo naik ke Merapi", seru kawanku sore itu.

"Kapan?", tanyaku.

"Minggu depan", jawabnya lagi.

Spontan aku langsung mengiyakan. Selain karena sudah hampir empat tahun tidak lagi menginjakkan kaki di puncaknya, sebenarnya dua bulan lalu aku juga berkeinginan mendaki Merapi, seperti yang tertulis pada kisahku Ketika Mentari dan Purnama Bertemu di Satu Cakrawala.

Akhirnya disepakati kami berangkat pada sabtu siang 12 September 2015 dengan titik kumpul di terminal Jombor pada jam 1 siang. Ada sebelas orang yang ikut saat itu, sebagian besar kawan mainku yang memang sering mendaki gunung bersama. Kami semua berangkat menggunakan motor masing-masing, agar lebih irit dan tentunya bebas macet. Perjalanan sepanjang jalan Magelang baik-baik saja, tetapi masalah muncul selepas kawasan Muntilan. Ternyata jalan penghubung antara Muntilan dan Boyolali masih dalam perbaikan, sehingga mau tak mau semua harus antri untuk melewatinya.

Tidak cukup sampai disitu, memasuki kawasan Selo jalanan yang memang berdebu diperparah dengan hadirnya puluhan truk pengangkut pasir. Kondisi jalan yang hampir 4 bulan tidak pernah tersiram air hujan membuat aspal tak lagi terlihat, hanya nampak debu di mana-mana. Akhirnya dengan berbekal kesabaran kami berusaha melewati kilometer demi kilometer yang tersisa.

Sekitar 2 jam berkendara, akhirnya kami sampai di basecamp pendakian Merapi tepat pukul 4 sore. Sebelumnya kami harus mendaftarkan diri dahulu dan membayar tiket masuk kawasan Taman Nasional Gunung Merapi seharga 18 ribu rupiah. Setelah pendaftaran beres, bergegas kami melangkah menuju New Selo dengan maksud beristirahat sejenak sembari mengisi perut untuk bekal pendakian. Kami juga masih menunggu dua orang kawan yang memang sebelumnya berangkat lebih lambat.

Lewat dari pukul 5 sore kedua kawan kami telah sampai ke New Selo, dan kami pun segera memulai pendakian. Medan pertama yang dilalui adalah jalanan yang telah dilapisi semen. Sebuah kemajuan besar mengingat 4 tahun sebelumnya jalanan ini masih berupa tanah yang berdebu di musim kemarau dan sangat licin di musim hujan. Jalanan sedikit menanjak cukup menguras stamina sehingga kami harus berkali-kali berhenti menunggu kawan yang tertinggal di belakang. Namun pemandangan ladang di kiri kanan serta gunung merbabu di kejauhan membuat kami seakan terlupa dengan rasa lelah yang dirasa.

Sekitar satu jam berjalan sampailah kami di pintu hutan. Sejenak mengistirahatkan badan sekaligus menyegarkan tenggorokan, kami letakkan carrier dan selanjutnya beribadah menunaikan kewajiban.

Tak perlu berlama-lama, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Suasana sunyi hutan belantara terpecah oleh suara langkah kaki dan canda tawa para pendaki. Jalur yang dilalui masih sama dengan rimbunnya pepohonan di samping kiri kanan kami. Hingga tanpa terasa telah sampailah kami di pos 1. Dan lagi-lagi suatu kejutan ketika di tempat ini kini telah berdiri sebuah bangunan permanen sebagai tempat beristirahat para pendaki.

Melewati pos 1 medan masih relatif sama dengan dominasi tanah berdebu dan pohon-pohon besar di sekelilingnya. Dan tak sampai satu jam kemudian telah sampailah kami di pos 2, lagi-lagi dengan bangunan barunya. Dari sini medan mulai terbuka dengan didominasi batu-batu besar sepanjang jalan yang dilalui. Bahkan tak jarang kami harus memanjat bebatuan untuk terus dapat melewati jalanan.

Akhirnya setelah tanjakan terakhir yang terjal dan berpasir, kami mulai melihat area landai. Ya, inilah pasar bubrah, tempat camp favorit para pendaki Merapi sebelum menuju puncak. Saat itu jam baru menunjukkan pukul 10 malam, dan kami pun segera mencari lokasi strategis yang nantinya akan digunakan untuk melepas lelah.

Tenda mulai didirikan dan kompor pun mulai dinyalakan. Di bawah jutaan bintang, hangatnya kopi beserta semangkuk mie instan dengan hamparan matras sebagai alas terasa jauh lebih nyaman dibandingkan hotel termahal sekalipun. Sementara di depan sana puncak Merapi berdiri dengan gagahnya. Saat-saat demikian, berbincang dengan sahabat merupakan hiburan yang tiada duanya.

Sampai tiba saatnya tidur untuk menyambut mentari esok pagi. Sleeping bag mulai dibuka dan kawan-kawan bergegas memasuki tenda. Tapi seperti biasa aku lebih memilih tidur beratapkan angkasa. Karena menurutku inilah saat terbaik untuk menikmati keindahan alam ciptaanNya, tentunya apabila cuaca memungkinkan. Galaksi, bintang, planet, dan segala yang terhampar di hadapan adalah pemandangan luar biasa yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Jam demi jam berlalu, dan akhirnya pagi menjelang. Selepas subuh kami mulai mencari lokasi terbaik untuk menyaksikan datangnya sang surya. Tempat favorit adalah di sekitaran monumen penanda nama pasar bubrah, karena di tempat inilah pandangan minim untuk terhalang. Dan ketika semburat jingga mulai menyeruak di angkasa, spontan ratusan handycam, dslr, kamera saku, dan juga smartphone mulai menampakkan dirinya untuk mengabadikan indahnya mentari pertama. Semua mata terfokus pada lingkaran terang yang sedikit demi sedikit mulai meninggi dari garis batas cakrawala.

Setelah puas dengan suara jepretan kamera, kami segera melangkahkan kaki menuju puncak garuda yang melegenda. Medan yang dilalui awalnya berupa butiran pasir dan kerikil yang selalu merosot ketika diinjak, ibaratnya dua langkah maju harus dibayar dengan satu langkah mundur. Benar-benar menguji kesabaran bagi yang melewatinya.

Selepas hamparan pasir dan kerikil, selanjutnya batu-batu besar telah menghadang. Tak jarang kami harus memanjat dan mencari celah yang memungkinkan untuk dilalui. Disamping itu kami juga harus memperhatikan setiap pijakan kaki agar tidak membahayakan pendaki yang mengikuti, karena tak jarang ada batuan lepas yang siap menggelinding ke bawah.

Akhirnya setelah hampir satu jam terlewati, tak nampak lagi batuan terjal di hadapan. Yang ada hanya rongga super besar yang mengepulkan asap. Ya, inilah kawah Merapi yang disebut-sebut paling aktif di bumi, dan kini berada di hadapan kami. Hanya jalanan selebar tak lebih dari 2 meter yang menjadi pijakan para pendaki di tepi kawah Merapi, karena itu semua harus selalu waspada dan berhati-hati. Jika lengah sedikit saja, salah berpijak dan terpeleset ke dalam kawah sama artinya dengan bunuh diri.

Panas yang mulai menyengat membuat kami tak bisa berlama-lama menikmati kemegahan puncak Merapi. Kami turun kembali ke pasar bubrah, dan segera mengemasi perbekalan yang sengaja kami tinggal di sana. Tenda, sleeping bag, matras, serta perbekalan lainnya mulai masuk ke dalam carrier dan siap menemani perjalanan kami kembali.

Lepas dari jam 9 pagi kami mulai berjalan menuruni lereng Merapi. Di cuaca yang begitu cerah, mulai tampak jelas banyaknya debu di sepanjang rute yang dilalui. Tak jarang kami harus melindungi mata dan hidung dari debu yang beterbangan. Ditambah jalanan yang juga tertutup debu membuat pijakan kaki seolah tak bisa menggigit tanah. Alhasil tak jarang nampak para pendaki yang terpeleset hingga meluncur ke bawah saat melewati rute yang begitu curam.

Jalanan mulai terasa nyaman dilalui ketika telah mencapai kawasan ladang penduduk. Kami memilih rute lain dengan melewati area tengah ladang dengan harapan menghindari bertumpuknya pendaki yang juga sama-sama berjalan turun.

Dan setelah hampir 2 jam berjalan, sampailah kami di kawasan New Selo. Sembari melepas lelah, kamipun memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing. Otot-otot yang sebelumnya terasa lunglai, seketika kembali bertenaga. Sebagian asyik bercengkrama membicarakan betapa seru kisah perjalanannya.

Usai beristirahat kami segera menuju basecamp dan bersiap meninggalkan area tersebut. Sebelumnya kami putuskan singgah di tempat ibadah, selain untuk menjalankan kewajiban, sekaligus juga membersihkan diri agar lebih nyaman selama perjalanan.

Akhirnya selepas Asar kami memulai perjalanan pulang menuju kota Jogja tercinta. Mengingat rute saat berangkat yang kurang begitu kondusif, kami memilih perjalanan pulang via Boyolali. Memang jarak yang ditempuh sedikit lebih jauh, tapi kami berharap bisa menghemat waktu dengan jalanan yang lebih lancar. Sempat singgah sejenak untuk memenuhi bahan bakar dan juga mengganjal perut, akhirnya tepat waktu Maghrib kami tiba kembali ke kota Jogja, kota tujuan kami semua. Petualangan yang tak lebih dari 2 hari memang terasa kurang, tapi pengalaman yang didapatkan selama perjalanan tersebut akan selalu kami kenang.

Dokumentasi perjalanan kali ini dapat dilihat disini.