Selamat Datang
Berbagi ilmu dan pengalaman untuk menjadi lebih baik.
Apa itu Manuver
Mengapa web ini dinamakan ManuverZone?
Tentang Saya
Sekilas tentang kehidupan sederhana namun berkesan.

 

 

Salah Jurusan bukan Salah Masa Depan

salah jurusan bukan salah masa depan

Sejak kecil saya memang bukan termasuk anak yang penurut, tetapi saya sangat segan dan selalu patuh pada orang tua, terutama ayah. Yang paling saya suka, di balik sosoknya yang tegas dan disiplin beliau selalu memanjakan saya, tentunya dalam batas wajar yang masih bisa diterima.

Masa-masa SD sampai SMA tidak ada yang luar biasa karena saya memang bukan anak yang neko-neko dan selalu berusaha menjalani apa adanya. Namun perang batin mulai menjalar ketika saya lulus SMA dan siap masuk bangku kuliah. Perlu diketahui bahwa ayah yang berlatar belakang pendidikan, menginginkan anak-anaknya juga mengikuti jejaknya. Sementara saya, semenjak SMP sangat suka dengan dunia komputer dan pernah bercita-cita menjadi seorang ahli komputer. Keinginan itu saya sampaikan kepada ayah bahwa saya ingin masuk Ilmu Komputer UGM, namun beliau menolak secara halus dengan mengatakan tingginya biaya yang dibutuhkan untuk masuk kesana. Saya pun paham dan mengurungkan niat saya, yang selanjutnya mengikuti SPMB dengan memilih Jurusan Pendidikan Matematika UNY sebagai tujuannya. Sebagai rencana cadangan, saya mendaftar di Teknik Informatika Akprind dan Teknik Elektro UMY melalui jalur prestasi berbekal nilai raport semasa SMA sehingga langsung diterima saat itu juga.

Akhirnya memang doa orang tua berbicara, saya ditakdirkan belajar di Jurusan Pendidikan Matematika UNY sebagai jenjang berikutnya. Awal masuk kuliah terus terang saya belum memiliki gambaran tentang apa yang akan saya lakukan dengan ilmu matematika yang saya pelajari ini. Tapi ternyata itu tidak terjadi pada saya saja, teman-teman kuliah sebagian juga mengalami hal yang sama. Bahkan uniknya, mereka juga memiliki kesukaan yang sama dengan saya, yaitu dalam bidang komputer. Hal inilah yang membuat kami akrab dan selalu beraktivitas bersama-sama.

Tahun 2006 bisa dibilang titik balik dari pembawaan saya yang culun dan pendiam, ketika seorang sahabat menawarkan untuk bergabung dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Matematika atau biasa disebut HIMATIKA. Saya yang biasanya hanya menjadi pengikut saja, kali ini langsung diberikan peran sebagai Kepala Bidang Olahraga dan Seni. Tapi dari sinilah saya mulai belajar bagaimana memimpin sebuah tim, berdikusi untuk memecahkan masalah, sampai bersama-sama menggali ide baru untuk membuat kegiatan yang bermanfaat. Keluarga ini jugalah yang akhirnya mengajarkan saya tentang pentingnya kebersamaan dan arti sebuah pengorbanan.

Dua tahun berikutnya amanah di HIMATIKA telah usai, namun kebersamaan itu tidak memudar bahkan hingga saat ini. Berbagai kegiatan masih selalu dilakukan bersama, mulai dari sekedar bermain game, jalan-jalan bareng, hingga membuat suatu kegiatan yang bermanfaat bagi sesama. Salah satu hasilnya adalah terbentuknya PSC Indonesia yang kisahnya dapat dibaca pada artikel Pertemuan tak Terduga.

Jarak yang memisahkan dan kesibukan tinggi bukanlah penghalang untuk saling berinteraksi. Ketika rasa persaudaraan telah tertanam, penghalang apapun serasa dapat dengan mudah dilewati sampai pada suatu masa dimana kita tersenyum dan merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan mereka.

Dari cerita ini, hal yang dapat kita tangkap adalah bukan jurusan apa yang kita pilih, tapi lebih pada bagaimana kita menjalaninya. Di sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa takdir itu memang tak pernah salah. Kita diwajibkan untuk berusaha, tetapi Dia yang telah merencanakan semuanya, bahkan hingga hal-hal terkecil yang sama sekali tidak kita duga. Karena apapun yang kita lakukan, takdir akan selalu menemukan jalannya.